Skydrugz Corner: Motivasi Perusahaan Melakukan Manipulasi Laporan Keuangan
Di buku Financial Shenanigans dijelaskan bahwa motivasi perusahaan untuk melakukan manipulasi laporan keuangan sangat banyak. Bahkan direktur dan manajemen perusahaan itu punya kecenderungan untuk melaporkan hal yang baik – baik saja pada para investornya seperti laba naik, revenue naik, dan lain-lain padahal semua itu bohong.
Tujuan utama para petinggi perusahaan melakukan itu adalah agar investor mau beli saham perusahaan mereka atau kreditor mau memberikan pinjaman pada mereka. Salah satu contoh perusahaan yang melakukan manipulasi laporan keuangan agar kreditor mau memberikan pinjaman adalah SNP Finance. Bisa beli buku Financial Shenanigans di sini. https://tokopedia.link/06uCwFB17sb
Kalau mau buku berbahasa Indonesia tentang manipulasi laporan keuangan maka bisa baca bukunya Theodorus M. Tuakotta https://tokopedia.link/aI2MbCf37sb salah satu pendiri Kantor Akuntan Publik (KAP) partner Delloite di Indonesia.
Sun Prima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance merupakan perusahaan multi finance, anak perusahaan dari grup bisnis Columbia. Sedangkan Columbia adalah perusahaan retail yang menjual produk perabotan rumah tangga seperti alat-alat elektronik dan furnitur, yang juga merupakan saingan ACES. Dalam menjual produknya, Columbia memberikan opsi pembelian dengan cara tunai atau kredit cicilan kepada customernya. SNP Finance inilah yang menjadi partner Columbia dalam memfasilitasi kredit dan cicilan bagi customer Columbia. Columbia sendiri mempunyai jumlah outlet yang sangat banyak, tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, melihat kondisi seperti itu, tentu SNP Finance harus memiliki modal kerja (working capital) dalam jumlah yang besar untuk menutup kredit para customer Columbia.
Kalau ACES hanya punya 200an gerai dan MR DIY baru punya 400 gerai di 2022, Columbia sudah punya gerai hingga 400an unit sejak 2012. Sehingga secara bisnis dapat dikatakan kalau Columbia lebih duluan besar jika dibandingkan dengan ACES.
Dari mana SNP Finance dapat duit untuk bisa membiayai kredit konsumen Columbia? Dari pinjaman bank dan kreditor lainnya. Mengapa bank mau memberikan pinjaman untuk SNP Finance?
- 1. Karena bank percaya dengan reputasi Columbia Group
- 2. Karena bank percaya dengan laporan keuangan yang disampaikan oleh SNP Finance.
SNP Finance menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte Indonesia yang merupakan salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) asing elit (disebut the Big Four) untuk mengaudit laporan keuangannya.
Asal Mula
Sebenarnya perjanjian utang piutang antara SNP Finance dengan para kreditornya adalah kerjasama yang saling menguntungkan. SNP Finance membutuhkan dana, bank juga butuh menyalurkan kredit. Namun dalam perjalanan waktu, ternyata bisnis retail Columbia yang merupakan induk dari SNP Finance mengalami kemunduran. Itu karena banyak kompetitor baru masuk, mulai dari ACES hingga GOTO dan Mr. DIY.
Apalagi konsumen zaman now sudah malas belanja produk furniture dan elektronik dengan datang ke toko. Mereka lebih enjoy membeli secara online lewat HP. Konsumen sudah bisa survey harga, spesifikasi produk, sampai dengan pembelian, semua dilakukan secara online. Bahkan para online shop tersebut juga memberikan fasilitas kredit tanpa bunga untuk tenor yang bahkan sampai 12 bulan. Perubahan perilaku pelanggan inilah yang memukul pangsa pasar dari Columbia, dan tentunya juga berdampak pada SNP Finance. Buntutnya adalah kredit SNP Finance kepada para bank – bank/krediturnya tersebut menjadi bermasalah, dalam istilah keuangan disebut Non Performing Loan (NPL).
Apa yang dilakukan SNP Finance untuk mengatasi utangnya kepada bank tersebut? SNP finance membuka keran pendanaan baru melalui penjualan surat utang jangka menengah, disebut dengan MTN (Medium Term Notes). MTN ini sifatnya hampir mirip dengan obligasi, hanya saja jangka waktunya adalah menengah, sedangkan obligasi jangka waktunya panjang. MTN ini diperingkat oleh Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) dan kembali lagi bahwa Pefindo juga memberikan peringkat salah satunya adalah berdasarkan laporan keuangan SNP Finance yang diaudit oleh Deloitte. Awalnya peringkat efek SNP Finance sejak Desember 2015 – 2017 adalah A-, bahkan kemudian naik menjadi A di Maret 2018.
Bayangkan, hanya dengan lihat laporan keuangan, Pefindo bisa memberikan peringkat A untuk MTN SNP Finance.
Awalnya pembayaran dari SNP Finance lumayan ancar, dan para kreditur tersebut juga menganalisis kesehatan keuangan SNP Finance melalui laporan keuangannya, yang diaudit oleh kantor akuntan publik ternama, yaitu Deloitte. Namun ternyata terjadi pemalsuan data dan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh manajemen SNP Finance. Diantaranya adalah membuat piutang fiktif melalui penjualan fiktif. Piutang itulah yang dijaminkan kepada para krediturnya, sebagai alasan bahwa nanti ketika piutang tersebut ditagih uangnya akan digunakan untuk membayar utang kepada kreditor. Untuk mendukung aksinya tersebut, SNP Finance memberikan dokumen fiktif yang berisi data customer Columbia. Sangat disayangkan bahwa Deloitte sebagai auditornya gagal mendeteksi adanya skema kecurangan pada laporan keuangan SNP Finance tersebut. Deloitte malah memberikan opini wajar tanpa pengecualian pada laporan keuangan SNP Finance.
Jadi apa yang dilakukan oleh SNP Finance ini mirip dengan beberapa kasus manipulasi piutang dalam buku Financial Shenanigans. Perusahaan sengaja menggelembungkan piutang yang tak tertagih atau accrual receivables.
Normalnya, piutang itu harus ditagih dalam jangka waktu 1-2 bulan. Namun jika sampai lebih dari setahun piutang tak juga tertagih dan malah makin membengkak, maka waspadalah. Itu red flag alias tanda bahaya.
Kita juga harus bisa mengecek bagaimana pengakuan cadangan kerugian untuk tiap piutang yang gagal bayar. Karena bisa saja piutang yang seharusnya sudah gagal bayar tetap diakui lancar oleh perusahaan karena pengakuan tersebut bersifat estimasi dari manajemen.
Di Buku Financial Shenanigans, juga mengatakan bahwa waspadalah pada perusahaan yang menggunakan perusahaan afiliasi multifinance untuk membeli produknya seperti yang dilakukan oleh Columbia dan SNP Finance.
Karena perusahaan dapat melakukan akselerasi pengakuan Revenue dan menutupi jejak bahwa sebenarnya perusahaan kesulitan menjual produknya sehingga konsumen harus diberikan perpanjangan pembayaran kredit di luar kewajaran. Misalnya kredit pembayaran televisi harusnya tenor hanya 12 bulan tiba-tiba diperpanjang oleh perusahaan jadi 24 bulan tapi itu tetap dianggap sebagai kredit lancar oleh perusahaan. Oleh karena itu kita perlu lihat bagaimana mekanisme pengakuan cadangan kerugian akibat piutang tidak lancar tersebut.
Saya ambil contoh saja LK BUKA. Saya ambil contoh LK BUKA karena kebetulan saya lagi baca LK-nya.

Bisa kita lihat bahwa pengakuan cadangan kerugian piutang yang gagal bayar di BUKA ternyata cukup rumit. Mereka ada sistem tersendiri. Bandingkan dengan LK ANTM

Ternyata sama saja.
Untuk menilai apakah ada perpanjangan pembayaran piutang, Skrining awalnya kita bisa pakai DSO atau days sales outstanding. DSO adalah ukuran rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk mengumpulkan seluruh piutang usaha setelah penjualan dilakukan. Makin pendek, makin bagus. Makin panjang, makin bahaya. Tapi tiap industri itu beda – beda DSO nya. Jadi kalau bisa bandingkan yang sejenis.
Days of sales outstanding = Piutang Akun / Total Kredit Penjualan X jumlah hari dalam 1 kuartal atau 1 semester atau 1 tahunÂ
Contoh BUKA Q2 2022

Piutang 112,5 Milyar

Revenue 1,691 Triliun
Hari dalam 6 bulan = 30 x 6 = 180 hari
Sehingga DSO = 112,5 Miliar/1,691 Triliun x 180 hari = 11,9 hari
Versus GOTO
Piutang LK Q1 2022 623 Milyar
Revenue 1,497 Triliun
Jumlah hari 1 kuartal = 30 x 3 = 90 hari
DSO = 623 Milyar / 1,497 Triliun x 90 hari = 37 hari
Ini artinya BUKA lebih cepat dalam mengumpulkan piutang menjadi kas jika dibandingkan dengan GOTO.
Kita harus analisis lagi mengapa DSO GOTO lebih panjang dari BUKA.
Untuk guidelines analisis bisa gunakan buku Financial Shenanigans ataupun Buka Manipulasi Laporan Keuangan
Untuk rekomendasi buku investasi saham lainnya bisa cek di sini
1. How To Make Money on Stocks
3. Mekanisme Transfer Pricing. Pura – pura rugi untuk kurangi pajak.
4. Little Book for InvestmentÂ
I am Not a Professional Financial Analyst and Advisor. Instrumen saham dan kripto adalah investasi yang beresiko tinggi. Resiko duit hilang 100% tetap ada. So be wise. Keputusan Jual dan Beli ada di Tangan Masing-masing. .
Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386
Gotrade Indonesia Sudah Legal
Dapatkan Cashback 2 dollar dengan daftar di sini
https://heygotrade.com/id/referral?code=106415
Beli saham di Dow Jones seperti Google dan Apple via Gotrade Indonesia
Gunakan Kode Referal 106415
Untuk dapatkan cashback 2 dollar
Untuk Update Insight Pintarsaham bisa di Channel Telegram Skydrugzstock
Buka Rekening Gotrade Indonesia untuk beli saham di bursa Amerika Serikat Gunakan Kode Referal 106415
https://heygotrade.com/id/referral?code=106415
Beli Merchandise Kaos Pintarsaham.id di tokopedia.com/pintarsaham
Gunakan kode voucher PINTARSAHAM untuk dapatkan cashback 15%
Kalau niat buka tabungan Bank Jago untuk dapat cashback 25.000 gunakan Referal bank Jago DRS4DBA0 https://jago.com/download
Kalau mau buka rekening Bank Neo Commerce untuk dapat cashback bisa pakai link ini https://s.bankneo.co.id/qPJh00 atau kode referal R35000
Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386
Untuk mengetahui Data Kepemilikan Saham di bawah 5% maka bisa daftar gratis di link iniÂ
Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id
Disclaimer :
Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi





